Sabtu, 03 Juli 2010

Kekawin Ramayana

Kakawin Ramayana adalah kakawin syair yang berisi cerita Ramayna. Di tulis dalam bentuk tembang berbahasa jawa kuno. Kakawin juga dapat diartikan puisi jawa kuno. Arti kakawin itu berasal dari kata ka + kawi ten yang mempunyai arti penyair. Kakawin sendiri dapat di artikan sebagai syair dan di buat di mataram Hindu pada masa pemerintahan Dyah Balitung sekitar tahun 820-8-23 saka atau sekitar tahun 810 masehi. Kitab yang juga dapat membedakan tentang kekawin di kenal dengan sebutan Wrettasancaya. Kitab Wrettasancaya ini di terbitkan oleh H kern pada tahun 1875 dengan huruf jawa beserta perjalanannya dengan bahasa jawa belanda. Kitab ini juga di terbitkan dengan huruf latin yang telah dibuat dalam Verspreide Gaschriften.
Didalam kitab Wrettasancaya terdapat contoh-contoh nama kakawin. Selain kitab Wrettasancaya ada juga kitab jawa kuno yang mengutarakan kakawin di antaranya Cuntakaparwa, Candraksana dan Candawarga ksara. Kakawin ini di sebut-sebut sebagai adi kawin, karena dianggap petama terpanjang dan terindah gaya bahasanya.
Dalam arti luas kakawin dapat diartikan sebagai puisi jawa kuno yang menggunakan metrum brama “kavya” puisi kesusastraan India.
Menurut C.C. Berg dalam bukunya yang berjudul Indleding te de studia van oud j avaabseh 1928, mengatakan bahwa kakawin jawa kuno ternyata banyak kesamaanya dengan kavya, puisi kesusastraan India dalam bahasa sansekerta.

Ciri-ciri kakawin
  • Satu bait terdiri dari 4 baris
  • Jumlah suku kata tiap baris sama ѿ
  • Tiap-tiap bait terikat guru (barat) dan laghu (ringan) guru dengan (-) dan laghu dengan tanda (ѿ)
  • Suku kata yang termasuk berat yaitu :
  • Suku kata yang memang bersuara berat, misal : bhu
  • Suku kata yang bersuara :e, o
  • Suku kata tertutup : sang, sih
  • Suku kata pendek, tetapi terletak dimuka suku kata rangkap misanya : mitra
  • (-), sira prabhu (-)
  • Suku kata akhir baris, walaupun pendek, dapat dianggap panjang atau bebas, maka dari itu suku kata pada akhir baris selalu iberi tanda –

Bentuk Kakawin
Secara leksikal kata guru yang berasal dari bahasa sansekerta berarti berat dan kata laghu berarti ringn . Zoet mulder <1983> : menjelaskan kata guru berarti panjang atau suku kata panjang (lon sillable) sedang laghu berarti pendek, baik untuk bunyi vokal maupn untuk suku kata.
Dengan demikian, dapat di jelaskan guru berarti suara panjang , berat dengan alunan panjang sedang laghu berarti suara pendek , ringan, dan dengan alunan pendek.

Contoh Bait
Jadi misalkan metrum kakawin yang bernama Sardulawikridita terdiri dari 19 suku kata. Lalu 19 suku ata ini guru laghunya adalah sebagai berikut ---|UU-|U-U|UU-|--U|--U|U. Satu garis – artinya ialah suku kata panjang, sementara satu U artinya ialah suku kata pendek. Sedangkan | hanyalah pembatas saja setiap tiga suku kata dan tidak memiliki arti khusus.

alam metrum kakawin sebuah suku kata yang mengandung vokal panjang (ā,ī,ū,ő,e,o,ai, dan au) otomatis disebut sebagai suku kata panjang atau sebagai guru (=berat) sedangkan sebuah suku kata yang mengandung vokal pendek disebut sebagai suku kata pendek atau laghu (=ringan). Namun sebuah vokal pendek apabila diikuti dengan dua konsonan, maka suku kata yang di sandangnya akan menjadi panjang. Lalu suku kata terakhir merupakan anceps (sebuah istilah bahasa latin) yang artinya ialah bahwa ia bisa sekaligus panjang maupun pendek.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar